Ketiban Apes Rob, Uang Rp 1,54 Miliar dalam Koper Nyaris Jadi Bubur
ILUSTRASI - Petugas Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal saat memeriksa lembar demi lembar uang senilai miliaran rupiah milik Ida Murlija yang rusak akibat terendam air rob.--
TEGAL, diswayjateng.id - Senyum lega akhirnya terpancar dari wajah Ida Murlija, 51. Warga Kabupaten Batang itu sempat didera kecemasan luar biasa setelah koper berisi uang tunai miliaran rupiah miliknya terendam banjir rob. Beruntung, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bergerak cepat menyelamatkan aset dokter umum puskesmas tersebut.
Didampingi suami dan anaknya, Ida mendatangi Kantor BI Tegal pada Kamis (2/7) pagi. Agenda mereka satu: menukarkan uang rusak yang nyaris jadi bubur tersebut agar bisa kembali digunakan.
Ida menceritakan, total uang yang ia sodorkan kepada petugas mencapai Rp 1,54 miliar. Petugas BI pun harus ekstra sabar dan teliti. Mereka memeriksa lembar demi lembar uang tersebut secara menyeluruh untuk memastikan keaslian dan tingkat kerusakannya.
"Kami merasa sangat terbantu dengan pelayanan penuh dari KPwBI Tegal. Proses pengajuannya ternyata mudah, cukup daftar online dulu lewat aplikasi PINTAR," ujar Ida di sela-sela proses pemeriksaan uangnya.
Dari hasil "operasi penyelamatan" oleh tim BI, tidak semua uang terendam rob itu bisa diselamatkan. Berdasarkan regulasi, uang yang memenuhi syarat penggantian tercatat sebesar Rp 1,51 miliar. Jumlah fantastis itu pun langsung diganti dengan uang rupiah baru yang layak edar.
Kepala KPwBI Tegal, Bimala, menjelaskan bahwa layanan penukaran uang rusak merupakan agenda rutin yang digelar setiap Selasa dan Kamis. Namun, masyarakat harus melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui situs resmi aplikasi PINTAR di [https://pintar.bi.go.id](https://pintar.bi.go.id).
Bimala menegaskan, Bank Indonesia tidak bisa asal mengganti uang yang rusak. Ada regulasi ketat yang harus dipenuhi demi keamanan.
"Penggantian hanya berlaku untuk uang rupiah asli. Kondisi fisiknya harus tersisa lebih dari dua pertiga (2/3) dari ukuran aslinya, ciri keasliannya masih dikenali, dan merupakan satu kesatuan utuh dari lembar yang sama," tegas Bimala.
Belajar dari kasus Ida, Bimala mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di rumah. Menyimpan uang di dalam koper atau lemari memiliki risiko tinggi terkena bencana seperti banjir rob, kebakaran, hingga rayap.
"Kami mendorong masyarakat memanfaatkan layanan perbankan agar dana mereka lebih aman dan terlindungi," tutur Bimala.
Selain itu, BI juga terus mengampanyekan era cashless atau non-tunai. Masyarakat disarankan mengoptimalkan instrumen digital seperti transfer bank, uang elektronik, hingga QRIS untuk transaksi sehari-hari karena dinilai lebih cepat, aman, dan andal.
Bimala memastikan bahwa seluruh layanan penukaran uang rusak di BI sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. "Harapan kami, masyarakat semakin peduli untuk menjaga dan merawat Rupiah sebagai salah satu simbol kedaulatan negara," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




