Personel SAR Wilayah Pantura Barat Digembleng Soal CSSR

Personel SAR Wilayah Pantura Barat Digembleng Soal CSSR

BINTEK - Plt Kalak BPBD Kabupaten Tegal sematkan tanda peserta Bintek CSSR yang diikuti personel SAR wilayah Pantura Barat Jawa Tengah.-Hermas Purwadi/Radar Tegal Grup-

SLAWI, diswayjateng.id - Personel SAR se-wilayah Pantura Barat, Jawa Tengah digembleng CSSR (Collapsed Strictire Search and Rescue) yang dikemas dalam bentuk bimbingan teknis (bintek.) Penggemblengan yang digelar BPBD Kabupaten Tegal.

Pelaksana Tugas Kalak BPBD Kabupaten Tegal, M. Afifudin memimpin langsung pembukaan Bintek CSSR, Jumat, 12 Juni 2026. 

"Kegiatan pelatihan ini diikuti perwakilan dari BPBD di wilayah Pantura Barat, relawan penanggulangan bencana, dan organisasi sosial kemasyarakatan," ujarnya. 

Penggemblengan, sambung Afif, berlangsung selama 3 hari, mulai 12 hingga 14 Juni 2026.

BACA JUGA: Saat MPP Mini Margasari Tegal Beroperasi, Layanan Administrasi Jadi Lebih Dekat Tanpa Ribet

BACA JUGA: 1.320 Petugas Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Tegal Terjun di 18 Kecamatan

Menurutnya, Bintek CSSR merupakan program pelatihan khusus untuk meningkatkan keterampilan personel dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR).

"Materi bintek tersebut mencakup dua kompetensi utama CSSR (Collapsed Structure Search and Rescue) dan  pelatihan teknik pencarian dan evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa bumi atau insiden struktural lainnya," cetusnya.

Menurutnya, CSSR adalah salah satu teknik khusus dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR). 

"Tantangan utama dari penyelamatan ini adalah lokasi yang sangat terbatas, minimnya ventilasi, serta potensi gas beracun yang mengancam nyawa korban maupun penyelamat," ungkapnya. 

BACA JUGA: Daya Beli di Pasar Tradisional Kabupaten Tegal Lesu, DPRD Minta Pemerintah Jangan Tutup Mata

BACA JUGA: Bupati Tantang KONI Tegal Duduki Peringkat 25 Porprov Jateng 2026

Dari pelatihan ini diharapkan dapat membekali para personel BPBD dengan beberapa keahlian penting , seperti tata cara penggunaan tabung oksigen, alat deteksi gas berbahaya (gas detector), dan sistem tripod pulley untuk evakuasi vertikal.

"Termasuk manajemen risiko dengan mengidentifikasi bahaya spesifik di ruang terbatas (misalnya bahaya ledakan atau kekurangan oksigen), sebelum melakukan evakuasi. Dan praktik langsung penanganan medis darurat prosedur pengangkatan korban dari dalam lubang atau ruang tertutup secara aman," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait