Sungai Serang Tercemar Misterius, Warga dan Babinsa Desak Usut Tuntas Pembuang Limbah
IKAN MATI : Akibat Sungai Serang tercemar menyebabkan ikan banyak yang mati. Foto : ist/Erna Yunus Basri--
UNGARAN, diswayjateng.id - Bau busuk menyengat dan hamparan air keruh kecokelatan mendadak jadi pemandangan kelam di aliran Sungai Serang, Dusun Gading, Desa Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Kondisi yang kian memprihatinkan ini akhirnya memantik reaksi keras dari berbagai pihak. Hari ini (20/5), sejumlah perangkat desa, Babinsa, hingga pemuda Karang Taruna Dusun Gading menggelar inspeksi mendadak (sidak) dengan menyisir langsung bantaran sungai guna mencari hulu petaka lingkungan tersebut.
Berdasarkan laporan warga, petaka ini bukan barang baru. Sungai Serang yang sejatinya menjadi urat nadi ekosistem lokal diakui telah berkali-kali dihantam limbah tak dikenal sejak awal tahun 2026.
BACA JUGA: Anggaran Rp25 Juta per RT di Semarang Mulai 2026 Fokus Ketahanan Pangan dan Lingkungan
Kepala Dusun (Dukuh) Gading, BS (45), mengungkapkan rasa frustrasinya saat ditemui di lokasi sidak. Ia menyebut aksi pencemaran ini sudah memasuki fase yang disengaja dan polanya kian terbaca.
"Ini sudah ketiga kalinya terjadi. Kejadian pertama itu di awal tahun 2026. Kemudian muncul lagi beberapa minggu lalu, dan yang paling parah ya tadi malam," ketus BS kepada Wartawan Disway Jateng-DIY.
BACA JUGA: Lima Rumah Hingga Kandang Ayam Rusak, Angin Puting Beliung Terjang Pabelan Kabupaten Semarang
BACA JUGA: Tidak Sesuai Spesifikasi Teknis, Dishub Kabupaten Semarang Langsung Nyatakan Gagal Uji
Bagi BS dan komunitas pemancing Mikro Fishing Tengaran, Sungai Serang bukan sekadar aliran air. Sungai ini adalah surga tersembunyi yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikan lokal langka yang tak lagi bisa ditemui di pasar-pasar modern. Saban sore, bantaran sungai ini juga kerap menjadi ruang publik tempat warga sekitar bercengkerama bersama keluarga.
Kini, kenyamanan itu sirna berganti kekesalan yang mendalam. "Saya mewakili pemancing Mikro Fishing Tengaran meminta pemerintah setempat dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini. Tangkap pelakunya dan beri efek jera! Jangan sampai ekosistem asli kita punah karena keserakahan segelintir oknum," tegas BS.

Dari hasil penelusuran awal di lapangan, muncul dugaan kuat bahwa sumber pencemaran berada di kawasan hulu. Warga mencurigai adanya aktivitas nakal dari salah satu Rumah Pemotongan Ayam (RPA) berskala besar serta imbas dari pembuangan limbah tak terolah dari peternakan lele di bagian atas sungai. Pasalnya, dampak pencemaran ini sangat masif mengingat aliran Sungai Serang melintasi sejumlah wilayah strategis, mulai dari Dusun Gading, Pamotan di Kecamatan Susukan, hingga memanjang sampai ke Jembatan Regunung.
BACA JUGA: Disparta Kabupaten Semarang Akui Target Wisata Akhir Tahun Belum Tercapai
BACA JUGA: Antisipasi Bencana, Dana PMI Kecamatan di Kabupaten Semarang Ditambah
Kesaksian serupa dituturkan oleh Bagong, warga RT setempat yang tinggal tak jauh dari bibir sungai. Ia menceritakan bagaimana mengerikannya kondisi sungai saat limbah misterius itu melintas. Tak hanya mengubah warna air menjadi keruh pekat, residu kimia atau organik di dalamnya langsung membunuh ikan-ikan kecil di sana.
"Selain airnya berubah keruh, baunya itu sangat menyengat sampai menusuk ke dalam rumah-rumah warga di permukiman. Ikan-ikan lokal banyak yang mengambang mati. Bahkan, kalau air ini sampai tersentuh kulit, rasanya langsung gatal-gatal dan panas," beber Bagong sembari menunjukkan titik aliran yang tercemar.
Bagong dan warga meyakini ada unsur kesengajaan dalam pembuangan limbah ini. Para pelaku disinyalir memanfaatkan kelengahan warga dengan memilih waktu operasi di jam-jam tertentu. "Perubahan warna air dan bau menyengat itu paling sering muncul setelah Magrib. Mereka sepertinya tahu kalau malam hari tidak ada yang mengawasi," tambahnya bersungut-sungut.
Hingga berita ini diunggah, upaya konfirmasi kepada pihak otoritas desa belum membuahkan hasil. Lurah Duren, Wahyudi, yang ikut turun langsung dalam agenda sidak siang tadi, belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah hukum atau sanksi yang akan diambil desa. Saat dihubungi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat WhatsApp, nomor ponselnya masih berada di luar jangkauan. Warga pun berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang segera turun tangan mengambil sampel air sebelum kerusakan lingkungan ini menjadi semakin permanen.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
