Sadranan Mas Kali Odo, Mata Air yang Mengalir Deras Saat Kemarau

Sadranan Mas Kali Odo, Mata Air yang Mengalir Deras Saat Kemarau

SADRANAN : Warga berduyun-duyun mendatangi Mata air Mas Kali Odo untuk mengikuti Sadranan di Mata Air Mas Kali Odo Dusun Karang Nongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang Kabupaten, Kabupaten Semarang. Foto : Erna Yunus Basri--

UNGARAN, diswayjateng.com - Sumber Mas Kali Odo, tiba-tiba menjadi pusat perhatian warga Dusun Karang Nongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang

Mata air Mas Kali Odo yang selama ini menjadi denyut kehidupan warga, sajak pagi dipadati warga. 

Tua muda hingga anak-anak, memenuhi pelajaran Mata air Mas Kali Odo untuk mengikuti tradisi Sadranan, pekan lalu. 

Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Tuntang Dani Ardianto, anggota DPRD Kabupaten Semarang Sis Budiono, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

BACA JUGA: Kecelakaan Beruntun, Truk Hantam Dua Mobil Pribadi di Ungaran

BACA JUGA: Dihadiri 2000-an Buruh, Ahmad Luthfi Rayakan May Day di Alun-Alun Bung Karno Ungaran

Tradisi yang menjadi turun temurun warga setempat itu, berlangsung meriah, hangat, sekaligus penuh rasa syukur.

Kepala Desa Gedangan, Darodji, mengatakan, warga berduyun-duyun mendatangi Mata air Mas Kali Odo berjalan beriringan sejak perempatan Karangnongko. 

"Berjarak sekitar dua kilometer, arak-arakan warga mulai bergerak sejak perempatan Karangnongko menuju Mata air Mas Kali Odo," ungkap Kepala Desa Gedangan, Darodji. 

Dibarengi iringan drumband MI Gedangan, gemuruh lantunan irama musik memecah suasana pagi yang semula tenang.

BACA JUGA: Ngopi Bareng di Ungaran, Kabarharkam Tekankan Pelayanan Humanis kepada Masyarakat

BACA JUGA: Anak Kampung Temukan Orok Bayi di Tepi Sungai di Ungaran Timur

Di belakangnya, warga berjalan tertib membawa aneka hasil bumi dan makanan yang disusun menjadi gunungan.

"Sementara, Para lelaki dewasa memanggul gunungan itu bergantian, sementara ibu-ibu menyunggi tampah berisi nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauk," terangnya. 

Sekitaran Kali Odo, bukan sekadar mata air biasa bagi warga Gedangan dan desa sekitar. Ada cerita yang diwariskan turun-temurun tentang keunikan Kali Odo.

Darodji menyebutkan, disaat musim kemarau tiba aliran air Kali Odo justru semakin deras. Dan sebaliknya, ketika musim penghujan debitnya malah berkurang. 

BACA JUGA: Ditinggal Salat Tarawih, Rumah Makarim di Genuk Ungaran Ludes Terbakar Terdengar Suara Mirip Mercon

BACA JUGA: Tanah Longsor di Kalongan Ungaran Timur Meluas Hingga 200 Meter, Mengancam Permukiman Penduduk

Darodji menambahkan, keunikan inilah yang membuat warga begitu menjaga keberadaan sumber air tersebut. 

"Air Kali Odo selama ini dimanfaatkan para petani untuk mengairi lahan pertanian di Desa Gedangan, Rowosari, hingga Sraten di Kecamatan Tuntang. Dari mata air itu, sawah-sawah tetap hidup dan panen terus berlangsung," pungkasnya. 

Setelah seluruh warga berkumpul, para tokoh agama memimpin doa bersama. Lantunan doa keselamatan menggema di sekitar sumber air, berpadu dengan gemericik Kali Odo yang terus mengalir. 

Warga menundukkan kepala, memanjatkan harapan agar diberi kesehatan, keselamatan, dan hasil panen yang melimpah.

BACA JUGA: Hujan Disertai Angin Kencang Robohkan Tiang Listrik, Jalan Penghubung Ungaran Timur-Mranggen Putus

BACA JUGA: Longsor Tiga Titik di Ungaran Timur, Polres Semarang Berjibaku Buka Akses Jalan Bersama Warga

Dalam kesempatan itu, Anggota DPRD Kabupaten Semarang Sis Budiono menegaskan komitmennya mendukung pengembangan Sumber Mas Kali Odo sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya.
"Kita bisa memanfaatkan dana APBD untuk mengembangkannya," ujarnya

Camat Tuntang Dani Ardianto mewakili Bupati Semarang Ngesti Nugraha berharap tradisi Sadranan terus dipertahankan sebagai pengingat pentingnya rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ngesti juga mengimbau, warga diminta menjaga kelestarian lingkungan sekitar sumber mata air agar tetap hijau dan asri.







Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait