Kecelakaan Silayur Semarang Terus Berulang, Pengawasan Truk Berat Diperketat Pemkot

Kecelakaan Silayur Semarang Terus Berulang, Pengawasan Truk Berat Diperketat Pemkot

Pemerintah Kota Semarang memperketat pengawasan kendaraan berat di jalur Silayur, Kecamatan Ngaliyan, setelah data kecelakaan enam tahun terakhir menunjukkan tingginya kasus rem blong dan korban jiwa.-dok. Pemkot Semarang-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com — Pengetatan aturan operasional kendaraan berat di jalur Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, dipastikan kembali dilakukan Pemerintah Kota Semarang menyusul tingginya angka kecelakaan maut yang terus terjadi selama enam tahun terakhir di kawasan tersebut.

Jalur curam dengan tingkat kelandaian mencapai 13,2 persen disebut masih menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan, terutama akibat kegagalan pengereman truk bertonase besar.

Data kecelakaan di kawasan Silayur sejak 2020 hingga awal 2026 menunjukkan insiden lalu lintas terus terjadi setiap tahun dengan dominasi kecelakaan kendaraan berat.

Korban jiwa maupun luka berat disebut masih kerap ditemukan dalam setiap peristiwa yang melibatkan truk di jalur penghubung kawasan industri Semarang Barat tersebut.

Berbagai langkah teknis telah dilakukan Pemkot Semarang untuk menekan angka kecelakaan Silayur Semarang, mulai dari penebalan marka jalan, pemasangan pita kejut, penambahan Rambu Pendahulu Petunjuk Jurusan (RPPJ), hingga penataan arus lalu lintas di sejumlah titik rawan kecelakaan.

Pembatasan kendaraan berat juga mulai diperketat melalui pemasangan portal dan pengawasan jam operasional kendaraan logistik.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menyebut kondisi geografis jalur Silayur menjadi faktor dominan penyebab kecelakaan truk yang terus berulang setiap tahun.

“Kawasan Silayur memang memiliki karakteristik tanjakan dan turunan ekstrem yang sangat panjang. Data menunjukkan rata-rata belasan hingga puluhan korban selalu ada setiap tahunnya, maka dari itu kami terus melakukan upaya rekayasa teknis agar angka ini bisa ditekan secara signifikan,” ujar Danang, Jumat 8 Mei 2026.

Menurutnya, kegagalan sistem pengereman kendaraan berat paling sering terjadi saat truk melintasi turunan panjang di kawasan tersebut. Risiko kecelakaan disebut semakin meningkat ketika kendaraan membawa muatan berlebih atau tidak dalam kondisi laik jalan.

Pengawasan lapangan kini mulai diperketat dengan menempatkan petugas di titik-titik strategis jalur Silayur. Pemeriksaan terhadap pelanggaran tonase dan jam operasional kendaraan berat juga disebut terus dilakukan untuk mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas.

Selain rekayasa lalu lintas, sejumlah titik putar balik atau u-turn yang dinilai membahayakan turut ditutup guna mengurangi hambatan samping kendaraan. Langkah tersebut dilakukan setelah evaluasi kecelakaan di jalur Silayur menunjukkan banyak insiden dipicu kepadatan arus kendaraan bercampur dengan kendaraan berat.

Pemkot Semarang juga mulai mendorong masyarakat agar mengurangi penggunaan sepeda motor saat melintasi jalur Silayur yang dikenal rawan kecelakaan. Pelajar dan mahasiswa diimbau memanfaatkan layanan BRT Trans Semarang Koridor IV yang melintasi kawasan tersebut.

“Penggunaan transportasi publik seperti BRT jauh lebih aman dibandingkan mengendarai sepeda motor di jalur curam ini. Armada kami rutin melalui pengecekan kelaikan kendaraan secara ketat sehingga risiko kegagalan teknis saat menanjak maupun menurun dapat diminimalisir demi keselamatan penumpang,” tuturnya.

Peningkatan aktivitas industri di wilayah Semarang Barat turut disebut menjadi penyebab meningkatnya volume kendaraan logistik yang melintas setiap hari di jalur Silayur. Kondisi itu dinilai memperbesar beban lalu lintas sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan kendaraan berat di kawasan Ngaliyan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: