Prosesi Mistis Manten Tebu di Kudus: Tradisi Penanda Musim Giling di PG Rendeng
Peserta kirab membawa dua batang lonjor tebu yang dihias janur dalam kirab manten tebu di PG Rendeng Kudus. --
KUDUS, diswayjateng.com- Penyelenggaraan tradisi manten tebu atau pengantin tebu, hingga kini masih terus dipertahankan oleh sejumlah pabrik gula yang masih aktif melakukan produksi.
Tradisi sakral dan unik yang telah berlangsung puluhan tahun ini, salah satunya dilakukan oleh Pabrik Gula (PG) Rendeng Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Salah satu kearifan lokal di Kudus ini, menarik perhatian masyarakat di Kota Kretek. Warga pun tertarik melihat prosesi manten tebu di PG Rendeng yang dulunya dikenal oleh masyarakat Kudus dengan tradisi “Gantingi” ini.
Tradisi Gantingi dilakukan sebagai menjadi awal dari masuknya musim giling di PG Rendeng Kabupaten Kudus pada Kamis (29/4/2026).
Prosesi diawali dengan arak-arakan kedua pengantin dari seberang pabrik, diiringi alunan kesenian tradisional barongan dan diusung oleh para pekerja berseragam batik. 
Sejumlah kesenian tradisional memeriahkan tradisi kirab manten tebu--
Dalam kirab itu, juga dihadirkan dua buah tebu yang diambil dari kebun yang berbeda di wilayah kerja PG Rendeng yang disatukan dalam tradisi tersebut.
Kedua tebu itu diibaratkan sebagai mempelai pria dan mempelai wanita. Prosesi kirab diawali dengan arak-arakan manten tebu dan diiringi para pengantar yang membawa batang tebu di bagian belakang.
Sementara di barisan depan, seni barong turut mengawal perjalanan pengantin tebu. Hal ini menambah semarak dan nuansa budaya dalam kegiatan tersebut.
General Manager PG Rendeng Kudus, Erwin Fitri Hatmoko mengatakan, tradisi kirab manten tebu telah diwariskan secara turun-temurun dan merupakan simbol masuknya musim giling.
Manten tebu putra diberi nama Raden Bagus Langgeng Laksono Widodo. Nama tersebut memiliki makna perilaku baik yang abadi dan konsisten dalam kebaikan.
Sedangkan manten putri bernama Roro Sri Rahayu Semseming Manis yang mengandung makna kemuliaan dan kesejahteraan hidup.
“Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga doa agar musim giling berjalan lancar dan menghasilkan produksi yang optimal,” ujar Erwin Fitri.
Untuk musim giling tahun 2026, PG Rendeng menargetkan tebu tergiling mencapai 400 ribu ton dengan rendemen sebesar tujuh persen.
"Dari target tersebut, produksi gula diproyeksikan mencapai 28 ribu ton. Target ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencatat tebu tergiling sebanyak 328 ribu ton, " terang Erwin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: