Ida Nurul Farida: Perempuan Berjalan Bukan untuk Membagi Diri Tapi Menyatukan Makna

Ida Nurul Farida: Perempuan Berjalan Bukan untuk Membagi Diri Tapi Menyatukan Makna

Anggota Komisi E, DPRD Provinsi Jawa Tengah, Fraksi PKS, Hj Ida Nurul Farida MPd. Foto : Erna Yunus Basri--

SALATIGA, diswayjateng.com - Diantara rumah dan dunia,  perempuan berjalan bukan untuk membagi diri tapi untuk menyatukan makna. 

Sehingga, perempuan tangguh bukan yang bisa melakukan semuanya sendiri tapi yang bisa menjalankan perannya dengan bijak. 

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah Fraksi PKS, Hj. Ida Nurul Farida, M.Pd dalam seminar dibalut dialog Pendidikan Politik Bagi Perempuan untuk mendorong Kesetaraan dan Keadilan Gender Mini Theater DPRD Kota Salatiga, Senin 27 April 2026. 

Kegiatan bekerjasama dengan DP3AKB Provinsi Jateng itu, turut menghadirkan Guru Besar IAN Kota Salatiga, selaku Narasumber Dr. Maslikhah, M.Si., yang juga Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan. 

Serta, Analis Kebijakan Ahli Muda DP3AKB Provinsi Jateng Asteria Dewi Russinawati S.Psi, MP.d.

BACA JUGA: Bawa Semangat RA Kartini, Anggota DPRD Provinsi Jateng Ida Nurul Farida Sowan ke Tokoh Perempuan Salatiga

BACA JUGA: Rangkul Guru TK, Anggota DPRD Jateng Ida Nurul Faridah Soroti Kekerasan Terhadap Tenaga Pendidik Perempuan

Ada pun para peserta adalah, perwakilan Fraksi di DPRD Kota Salatiga dan Partai Politik (Parpol) di Kota Salatiga. 

Ida Nurul Farida yang juga Wakil Ketua  Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Jawa Tengah untuk masa bakti 2025–2030, menegaskan, ketika perempuan berdaya dan bahagia maka keluarga kuat masyarakat maju dan bangsa pun tumbuh. 



"Pada dasarnya, perempuan itu multi peran satu tujuan, menjaga harmoni antara rumah dan peran publik. Dan di antara rumah dan dunia, perempuan berjalan bukan untuk membagi diri tapi untuk menyatukan makna," tandasnya. 

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa, yang dimaksud dengan multi peran satu tujuan adalah perempuan masa kini hadiri dua dunia domestik dan publik. 

Yang diartikan satu tujuan adalah semua peran itu bermuara pada kesejahteraan keluarga dan kemajuan bangsa. Sedangkan, multi peran artinya perempuan menjalankan banyak tanggung jawab sebagai ibu, istri, bekerja, pemimpin, relawan dan anggota masyarakat. 

BACA JUGA: Duta RKI dan Bipeka DPW PKS Jateng Berkunjung ke DP3AP2KB Jateng, Ida Nurul Farida: Kami Ingin 'Dijawil'

BACA JUGA: Politisi Senior PKS Ida Nurul Farida Ditunjuk Sebagai Duta RKI Jateng

Perempuan bukan hanya tulang rusuk tapi juga pilar kehidupan yang menopang keluarga sekaligus menggerakkan masyarakat.

Ida menyampaikan bahwa perempuan itu memiliki tugas luar biasa, apalagi ketika sudah berkeluarga.


"Karena memiliki kewajiban kepada suami. Apakah (perempuan / istri) tidak membutuhkan (kewajiban), pasti membutuhkan untuk menuju wanita Sholehah, bagaimana harus andap asor kepada suami. Wanita itu menjadi pakaian bagi suami," ungkap Ida Nurul Farida. 

Melalui Pendidikan Politik Bagi Perempuan untuk mendorong Kesetaraan dan Keadilan Gender ini, diakui Ida, memberikan pembekalan politik untuk perempuan-perempuan di Salatiga, khususnya. 



"Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan wawasan kepada perempuan-perempuan keterwakilan partai politik di Salatiga terkait dengan wawasan, baik dalam lingkup domestik maupun publik," ujarnya. 

BACA JUGA: Kartini 2026 di Semarang: Agustina Ajak Perempuan Berani Ambil Peran, UMKM hingga Kesehatan Jadi Sorotan

BACA JUGA: Angka Tindak Kriminal Terhadap Perempuan di Semarang Masih Tinggi, Kapolres Imbau Korban Jangan Takut Lapor

Posisi Perempuan
Posisi perempuan, lanjut dia, harus dikuatkan agar para perempuan / wanita berdaya guna, baik di rumah maupun ditengah masyarakat. 

Di Kota Salatiga sendiri, diakui Ida, posisi perempuan terbilang sudah sangat maju. Namun, ia ingin lebih dan menambahkan wawasan serta membangun kolaborasi agar perempuan maju bersama serta meningkatkan dedikasi. 

Harapannya, melalui Pendidikan Politik Bagi Perempuan untuk mendorong Kesetaraan dan Keadilan Gender, peran perempuan mempunyai wawasan yang baik tentang peran-perannya sebagai aktivitas perempuan. 

"Tapi tidak boleh lupa juga bahwa perempuan itu secara kodrat memiliki tugas di rumah yang harus diselesaikan, kemudian bagaimana dia bisa kuat saat beraktivitas di luar rumah. Poinnya, membangun kolaborasi di rumah. Sehingga, kokoh di rumah, kokoh juga di masyarakat," imbuhnya. 



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait