Karnaval Paskah Semarang Tegaskan Kota Inklusif, Difabel Diberi Panggung Setara

Karnaval Paskah Semarang Tegaskan Kota Inklusif, Difabel Diberi Panggung Setara

Karnaval Paskah 2026 di Semarang menegaskan komitmen kota inklusif dengan melibatkan kelompok difabel sebagai bagian utama acara.-dok. Pemkot Semarang-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com – Pesan kota inklusif SEMARANG ditegaskan melalui gelaran Karnaval Paskah 2026 yang digelar di pusat kota. Keterlibatan kelompok difabel dalam rangkaian acara dinilai menjadi wujud nyata inklusivitas, bukan sekadar simbol seremonial.

Sejak awal kegiatan hingga titik akhir di depan Balai Kota Semarang, partisipasi berbagai elemen masyarakat ditampilkan secara terbuka dan setara.

Kehadiran kelompok difabel dalam karnaval tersebut telah diberikan ruang khusus untuk tampil di panggung utama. Pada penutupan acara, sebuah pertunjukan tari dibawakan dan berhasil menyita perhatian pengunjung yang memadati kawasan tersebut.

Penampilan itu dinilai tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai representasi kesetaraan akses di ruang publik.

Dalam momentum tersebut, ruang publik di Kota Semarang kembali ditegaskan sebagai ruang yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Kesempatan berekspresi yang diberikan kepada difabel disebut sebagai bagian dari upaya membangun kesetaraan sosial di tengah keberagaman warga kota.

Pesan inklusivitas itu dinilai semakin kuat ketika penampilan difabel tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian utama dari rangkaian acara.

Dengan demikian, keberadaan mereka tidak hanya diakomodasi, tetapi juga dihargai secara setara.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari dinamika kehidupan kota.

Ia menyebut ruang publik harus terus dihidupkan sebagai tempat interaksi masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus bergerak, menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi kebahagiaan di ruang publik,” ujar Agustina.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa kekuatan sebuah kota justru terbentuk dari keberagaman yang dikelola dengan baik. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang, melainkan fondasi dalam membangun kebersamaan.

“Seringkali kebersamaan dianggap lahir dari kesamaan, padahal justru dari perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan memiliki makna,” tegasnya.

Karnaval Paskah 2026 juga disebut sebagai refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada aspek fisik seperti infrastruktur.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait