Jelang TKA SD Perdana, Disdik Kota Pekalongan Targetkan Nilai Rata-rata Matematika 55

Jelang TKA SD Perdana, Disdik Kota Pekalongan Targetkan Nilai Rata-rata Matematika 55

Suasana kelas IV SDN 01 Podosugih Kota Pekalongan--Mukhtarom

PEKALONGAN, diswayjateng.comDinas Pendidikan Kota Pekalongan mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD yang akan digelar untuk pertama kalinya pada 20–30 April 2026. Ujian ini menjadi bagian dari kebijakan baru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di era Menteri Abdul Mu’ti.

Sebanyak 3.123 siswa SD di Kota Pekalongan dipastikan mengikuti TKA. Seluruh peserta dijadwalkan mengikuti ujian dalam lima gelombang, dengan masing-masing gelombang berlangsung selama dua hari.

Koordinator TKA Kota Pekalongan, Karyono, menjelaskan bahwa setiap peserta akan mengerjakan 30 soal dalam waktu 75 menit. Materi yang diujikan terdiri dari 50 persen soal dari pusat dan 50 persen dari daerah.

“Mapel hari pertama Bahasa Indonesia, hari kedua Matematika. Soalnya berbasis HOTS, jadi tidak sekadar hafalan atau hitungan sederhana,” ujarnya.

Nilai TKA Bukan Penentu Kelulusan

Menurutnya, TKA tidak berfungsi sebagai penentu kelulusan siswa. Ujian ini justru dirancang untuk mengukur potensi akademik sekaligus memvalidasi nilai rapor yang selama ini diberikan sekolah.

“TKA fungsinya bukan untuk menentukan kelulusan, tapi untuk mengukur potensi akademik siswa dan sebagai validator nilai rapor, apakah sudah sesuai kompetensi atau belum,” kata Karyono.

Hasil TKA nantinya juga menjadi salah satu syarat bagi siswa yang ingin masuk SMP melalui jalur prestasi. Nilai tersebut akan dikombinasikan dengan nilai rapor sejak kelas IV semester 2 hingga kelas VI, serta sertifikat kejuaraan akademik maupun non-akademik.

Sementara itu, bagi siswa yang mendaftar melalui jalur domisili, nilai TKA tidak menjadi syarat wajib.

Dinas Pendidikan Target Nilai Rata-rata Matematika 55

Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menargetkan capaian awal yang realistis pada pelaksanaan perdana ini. Rata-rata nilai Matematika ditargetkan mencapai 55, sedangkan Bahasa Indonesia 60.

“Ini tahap awal, jadi target kita Matematika 55 dan Bahasa Indonesia 60. Kita tidak ingin hasilnya seperti di tingkat SMA,” ungkapnya.

Karyono juga menyoroti perubahan sistem penilaian dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak dihapuskannya ujian nasional. Ia menilai, tanpa standar evaluasi yang jelas, muncul persepsi keliru dalam implementasi Merdeka Belajar.

“Ada salah persepsi bahwa merdeka itu bebas, pasti naik. Padahal tidak begitu. Ini yang perlu diluruskan, karena proses pembelajaran harus tetap mengacu pada capaian kompetensi,” tegasnya.

Untuk itu, Disdik telah melakukan berbagai upaya persiapan, mulai dari sosialisasi kepada guru, pembahasan silabus, hingga penyediaan soal latihan yang dapat diakses siswa.

“TKA ini berbasis HOTS. Jadi matematika tidak sekadar rumus, tapi anak harus memahami konsep dan fakta. Guru juga sudah kita siapkan melalui pelatihan pembelajaran mendalam,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait