Pascabencana Tanah Bergerak, Warga Padasari Tegal Krisis Air Bersih

Pascabencana Tanah Bergerak, Warga Padasari Tegal Krisis Air Bersih

AIR BERSIH - PMI Kabupaten Tegal menyalurkan air bersih di lokasi pengungsian bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Sabtu (4/4/2026).--

SLAWI, diswayjateng.com - Ribuan warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih berjibaku dengan krisis air bersih pascabencana tanah bergerak yang meluluhlantakkan permukiman mereka.

Retakan tanah yang kian melebar tak hanya merobohkan rumah, tetapi juga memutus sumber kehidupan, sumur-sumur warga kini tertimbun, hancur, dan tak lagi bisa digunakan.

Meski hujan sesekali turun, ironi tetap terasa. Air bersih justru menjadi barang langka di desa tersebut. Warga yang kehilangan tempat tinggal kini juga harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar yang paling vital.

“Air sekarang susah sekali. Mau minum, masak, sampai mandi harus nunggu bantuan. Sumur sudah hilang semua, tertimbun tanah,” ujar Siti (42), salah satu warga terdampak, Sabtu (4/4/2026).

Kondisi ini mengetuk kepedulian berbagai pihak. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih dalam jumlah besar untuk meringankan beban para penyintas.

Ketua PMI Kabupaten Tegal, Iman Sisworo, melalui Kepala Markas PMI, Sunarto, mengatakan distribusi air bersih mulai dilakukan sejak Jumat (3/4/2026). Pada hari pertama, PMI mengirimkan 8.000 liter air bersih atau setara dua truk tangki.

Penyaluran dilakukan di dua titik. Sebanyak 4.000 liter disalurkan ke kawasan hunian sementara (huntara) Padasari, yang dihuni 397 jiwa dari 103 kepala keluarga. 

Sementara 4.000 liter lainnya dikirim ke lokasi pengungsian di SMP/SMA Al Adalah yang difungsikan sebagai sekolah darurat, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 543 jiwa.

“Distribusi ini kami upayakan merata agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, meskipun dalam kondisi darurat,” kata Sunarto.

Bantuan tak berhenti di situ. Pada Sabtu (4/4/2026), PMI kembali mengirimkan 8.000 liter air bersih ke lokasi pengungsian di kompleks Pondok Pesantren Al Adalah. Di lokasi tersebut, ratusan santri yang juga menjadi korban bencana sangat bergantung pada pasokan air bersih.

Air bersih menjadi kebutuhan yang harus dihemat dan digunakan secara bergantian.

“Kalau tidak ada bantuan, kami benar-benar bingung. Air itu sekarang seperti emas di sini,” ungkap Ahmad (17), salah satu santri pengungsi.

Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari bukan hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga merenggut rasa aman dan kenyamanan warga. Hingga kini, mereka masih bertahan di pengungsian, menggantungkan harapan pada bantuan yang datang. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: