Korwil SPPG Batang Akui Ada Keluhan Menu MBG bulan Ramadan, Sekitar 30 Persen Kasus

Korwil SPPG Batang Akui Ada Keluhan Menu MBG bulan Ramadan, Sekitar 30 Persen Kasus

Pihak SPPG harus teliti dalam penyediaan makanan kering selama Ramadhan. --

BATANG, diswayjateng.com - Koordinator wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten BATANG, Puji Lestari, mengakui adanya sejumlah keluhan masyarakat terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah.

Namun menurutnya, keluhan tersebut tidak terjadi di seluruh penyedia layanan dan hanya sebagian kecil dari keseluruhan pelaksanaan program.

“Kalau dibilang keluhan itu ada, memang ada, tapi tidak semuanya. Banyak juga menu yang bagus. Biasanya yang ramai di media itu yang kurang bagus saja,” kata Puji Lestari saat memberikan keterangan, Selasa 10 Maret 2026.

Puji memperkirakan persentase menu yang dianggap kurang layak oleh penerima manfaat berada di kisaran 30 hingga 35 persen dari keseluruhan distribusi makanan.

Evaluasi Dilakukan Setiap Hari

Menurut Puji, pengawasan terhadap kualitas makanan dilakukan secara rutin melalui laporan harian dari para kepala SPPG. Setiap hari pihaknya menerima laporan perkembangan menu dan distribusi makanan melalui grup koordinasi internal.

“Evaluasi itu kami lakukan setiap hari. Kepala SPPG melaporkan menu yang disajikan, dan kalau ada yang dianggap kurang memenuhi standar kepantasan, langsung kami tegur,” jelasnya.

Teguran tersebut tidak hanya diberikan kepada kepala SPPG, tetapi juga kepada mitra penyedia makanan. Jika dalam beberapa kali evaluasi masih ditemukan menu yang tidak sesuai standar, maka pihaknya akan menindaklanjuti dengan langkah pembinaan lebih lanjut.

Variasi Menu Jadi Tantangan

Puji juga mengakui bahwa salah satu tantangan dalam pelaksanaan program MBG adalah keterbatasan variasi menu dalam siklus penyajian makanan.

Dalam satu siklus menu selama sekitar 20 hari, pihak penyedia makanan harus memastikan variasi makanan tetap terjaga.

“Kemarin sempat ada yang memberikan ubi dan itu dikeluhkan. Sebenarnya itu karena variasi menu dalam siklus 20 hari sudah hampir habis,” katanya.

Menurutnya penggunaan bahan makanan seperti ubi atau umbi-umbian lain merupakan bagian dari upaya variasi menu agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Terapkan Label Harga Menu

Sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat dan penerima manfaat, SPPG juga mulai menerapkan sistem label harga pada setiap paket menu.

Langkah tersebut diambil setelah muncul pertanyaan masyarakat mengenai nilai biaya makanan yang disajikan kepada siswa.

“Sekarang setiap menu diberi label harga. Jadi masyarakat bisa tahu apakah itu paket Rp8.000 atau Rp10.000,” ujar Puji.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait