Banjir di Kawasan Industri Candi Semarang Akibat Luapan Sungai Silandak, 155 Warga Terdampak

Banjir di Kawasan Industri Candi Semarang Akibat Luapan Sungai Silandak, 155 Warga Terdampak

BANJIR: Warga menolong pengendara yang terseret saat hujan lebat mengguyur kota semarang. -Dok. Warga-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjatenh.id - Banjir merendam Kawasan Industri Candi (KIC), Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis 26 Februari 2026 sore. Genangan terjadi setelah hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut dan menyebabkan Sungai Silandak meluap. 

Air mulai menggenangi akses jalan utama kawasan industri sekitar pukul 16.30 WIB. Sejumlah kendaraan yang melintas terjebak di tengah genangan, bahkan beberapa sepeda motor dilaporkan terseret arus. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, air berangsur surut sekitar pukul 22.40 WIB atau enam jam setelah kejadian. 

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, membenarkan bahwa banjir dipicu oleh limpasan Sungai Silandak akibat intensitas hujan tinggi dalam waktu singkat. 

“Banjir di Kawasan Industri Candi akibat limpasan Sungai Silandak. Air sudah surut sejak pukul 22.40 WIB,” ujar Endro saat dikonfirmasi, Jumat 27 Februari 2026 siang. 

Dalam rekaman video amatir yang beredar, tampak kepanikan warga dan pengendara ketika arus air meningkat. Beberapa mobil terlihat nekat menerobos genangan, sementara pengendara roda dua berupaya menyelamatkan kendaraannya dari derasnya arus. 

Meski akses jalan sempat tergenang, BPBD memastikan tidak ada laporan gangguan signifikan terhadap operasional pabrik di kawasan tersebut. Proses pembersihan material lumpur dan sisa genangan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang usai air surut. 

“Tidak ada laporan yang mengganggu aktivitas pabrik,” kata Endro. 

Selain merendam kawasan industri, banjir juga terjadi di Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan. Sebanyak 155 jiwa dilaporkan terdampak akibat air yang masuk ke permukiman warga. Petugas gabungan melakukan pendataan dan memastikan kondisi warga dalam keadaan aman. 

Bencana hidrometeorologi lain juga terjadi di Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan. Saluran air dilaporkan longsor dan jebol dengan tinggi sekitar 3,5 meter dan lebar kurang lebih 30 meter. Kerusakan tersebut dipicu tingginya debit air saat hujan ekstrem. 

Tak hanya itu, angin puting beliung turut menerjang wilayah yang sama. Sebuah masjid mengalami kebocoran atap, sementara plafon teras tempat ibadah berukuran 8 x 3 meter ambruk. Satu unit mobil milik warga dilaporkan rusak setelah tertimpa genting yang berjatuhan. 

“Dalam insiden ini tidak ada korban jiwa,” tegas Endro. 

BPBD Kota Semarang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. 

Warga diminta mengenali titik rawan banjir dan longsor di lingkungan masing-masing serta segera berkoordinasi dengan pengurus RT/RW, kelurahan, kecamatan, maupun instansi terkait apabila terjadi keadaan darurat. 

“Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun baliho roboh,” pungkasnya. (Sul)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait