Nasib Peternak Ayam Mandiri di Pati Terjepit, Kuota DOC Dimonopoli Perusahaan Integrator Besar
Pendistribusian kuota DOC kerap tidak merata kepada para peternak lokal di Pati--
PATI, diswayjateng.com - Ketidakadilan dalam sistem distribusi DOC (Day Old Chick) yang terkesan dikuasai perusahaan pembibitan ayam integrator besar, membuat para peternak lokal di Kabupaten Pati bergejolak.
Nasib kalangan peternak mandiri yang terwadahi dalam Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) ini, kian terjepit di bawah perusahaan pembibitan ayam berskala besar.
Mirisnya lagi, pendistribusian kuota DOC juga seringkali tidak merata kepada para peternak lokal. Pihak PPMP menuding kuota DOC justru mengalir ke lingkaran internal atau relasi bisnis tertentu.
Dengan ketidakadilan tersebut, para peternak lokal PPMP berencana melakukan aksi protes. Yakni terhadap perusahaan pembibitan ayam milik korporasi besar yang berlokasi di Kecamatan Pucakwangi Pati.
Rencana aksi unjuk rasa para peternak lokal ini, terkait perizinannya juga telah dilayangkan ke Polres Pati. Sesuai surat pemberitahuan ke polisi, rencana aksi dilakukan pada Senin (23/2/2025).
"Persoalan utama kami bukan hanya sekadar soal protes, melainkan dugaan ketidakadilan struktural dalam distribusi DOC, " ujar Sarifudin perwakilan peternak mandiri Pati.
Pria yang biasa disapa Barry ini menyebut, kuota pendistribusian DOC tidak merata serta mengutamakan kepentingan lingkaran internal atau relasi bisnis tertentu.
Dengan ketidakadilan itu, kata Barry, memaksa peternak lokal harus berebut untuk mendapatkan sisa kuota DOC. Parahnya lagi, harga DOC juga dipatok lebih tinggi dengan persyaratan yang tidak seimbang.
Akibatnya, imbuh Barry, banyak peternak lokal di Pati terpaksa menunda siklus produksi. Mereka pun harus membeli DOC dengan biaya lebih mahal.

Peternak mandiri Pati keluhkan sulitnya mendapatkan pasokan DOC. --
Dampak langsung atas ketidakadilan kuota distribusi DOC, lanjut Barry, yakni penurunan pendapatan.
"Selain itu, terancamnya keberlangsungan usaha keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan, " beber Barry dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan.
Barry menyebut, bahwa kondisi ini semakin memantik kekecewaan para peternak mandiri. Sebab persoalan yang sama, juga sudah pernah dimediasi sekitar November 2025 lalu.
Kala itu, salah satu peternak lokal sempat meminta audiensi kepada kepala daerah di Pati. Oleh Bupati Pati, mereka difasilitasi untuk berdiskusi dengan pihak integrator besar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: