Tangis Warga Padasari Tegal Ketika Rumahnya Roboh, Trauma Ketika Hujan Turun
POS - Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman saat mengungsi pos pengungsian di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Sabtu (7/2/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Bencana tanah bergerak di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara tidak hanya merusak bangunan fisik yang ada. Musibah ini juga meninggalkan kenangan pahit hingga menyebabkan mereka trauma ketika hujan turun.
Malam itu, sunyi berubah jadi kepanikan. Tanah yang selama ini dipijak warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tiba-tiba bergerak, menggeser rumah, harapan, dan rasa aman. Di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda, derak tembok runtuh menjadi saksi betapa rapuhnya hidup di hadapan alam.
Nur Halimah (35) masih mengingat jelas detik-detik mencekam saat rumahnya hancur pada Selasa (3/2/2026) malam. Sekitar pukul 21.00 WIB, ia keluar rumah setelah merasakan getaran tak biasa. Apa yang dilihatnya membuat lututnya lemas.
“Jam sembilan malam saya keluar, tembok sudah hancur semua. Tanah sudah merembes ke bawah, diinjak saja sudah tidak bisa,” tutur Nur, Sabtu (7/2/2026).
Kini, Nur tinggal di pos pengungsian bersama anaknya yang masih berusia 5 tahun. Setiap tetes hujan membawa kembali trauma. Ia hanya berharap satu hal sederhana namun mendesak: tempat tinggal yang layak, jauh dari perbukitan.
"Biar trauma keluarga kami hilang,” ucapnya lirih.
Pergerakan tanah di Padasari terus meluas. Hujan yang sesekali turun membuat kondisi kian mengkhawatirkan. Meski demikian, warga yang berada di titik rawan telah dievakuasi.
Mereka diamankan dan tersebar di sejumlah lokasi pengungsian: Pos Pengungsian Rumah Bapak Kamal, SD Negeri Padasari 2, Dukuh Lebak, Pos Pengasinan, Gedung Serbaguna Desa Penujah, hingga Pondok Pesantren Dawuhan Padasari. Sebagian lainnya juga ada yang menumpang di rumah saudara di luar desa.
Di antara para pengungsi, ada Ahmad Ubaidillah, siswa kelas V SD Padasari 01. Tiga hari terakhir ia menghabiskan waktu di pengungsian bersama keluarganya. Rumahnya memang tidak roboh, namun bergeser dan tak lagi aman.
“Sudah sekitar tiga hari saya tinggal di pengungsian. Rumahnya nggak hancur, cuma miring ke atas,” ucapnya polos.
Demi keselamatan, seluruh anggota keluarga memilih meninggalkan rumah. Hampir semua tetangga di sekitar Ahmad pun melakukan hal serupa. Di balik ketegarannya, rasa sedih tak bisa disembunyikan.
“Walaupun rumahnya nggak hancur, ya tetap sedih,” ucapnya. Saat ditanya harapan, jawabannya singkat namun penuh makna: “Semoga keluarga saya sehat selalu.”
Data terbaru dari Pemerintah Kabupaten Tegal mencatat, sebanyak 464 rumah terdampak, dengan 250 di antaranya rusak berat. Total 2.426 jiwa kini mengungsi di empat posko utama. Data tersebut dihimpun hingga Jumat (6/2/2026).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
