Rentetan Bencana di Kabupaten Tegal, 117 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi
BANTUAN - PMI Kabupaten Tegal menyerahkan bantuan kepada keluarga terdampak bencana alam di wilayah Kecamatan Bumijawa, Rabu (28/1/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Kabupaten Tegal seolah tak diberi jeda. Dalam kurun waktu hanya lima hari, sejak 23 hingga 28 Januari 2026, rentetan bencana alam di Kabupaten Tegal datang bertubi-tubi.
Mulai dari banjir bandang, tanah bergerak, hingga terjangan angin puting beliung dan hujan deras disertai angin kencang, menghantam sedikitnya 11 desa di sejumlah kecamatan.
Dampaknya tak main-main, ratusan warga terdampak dan 117 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tegal, Iman Sisworo, mengungkapkan, bencana yang terjadi dalam waktu berdekatan itu meninggalkan jejak kerusakan serius, baik pada permukiman warga maupun fasilitas umum.
"Dalam kurun waktu 23 sampai 28 Januari 2026, Kabupaten Tegal mengalami berbagai jenis bencana alam. Dampaknya cukup luas, meliputi banjir bandang, tanah bergerak, serta hujan deras yang disertai angin kencang dan puting beliung,” ujar Iman saat dikonfirmasi, Rabu (28/1/2026).
Bencana paling awal tercatat terjadi di Desa Sumbaga, Kecamatan Bumijawa. Angin puting beliung menerjang tanpa ampun, merusak sedikitnya 37 rumah warga.
Belum pulih dari kejadian itu, cuaca ekstrem kembali melanda Desa Traju, masih di Kecamatan Bumijawa. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan 15 rumah rusak dan satu warga mengalami luka-luka.
Gelombang cuaca buruk terus berlanjut. Di Desa Batumirah, sembilan rumah rusak akibat hujan deras dan angin kencang.
Sementara di Desa Bumijawa, dua rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat kejadian serupa.
Puncak bencana terjadi di kawasan wisata Desa Guci, Kecamatan Bumijawa.
Banjir bandang datang membawa arus deras yang tak hanya menghantam permukiman, tetapi juga meluluhlantakkan fasilitas penunjang wisata. Tiga rumah warga rusak, tiga jembatan hanyut, tiga kios terseret arus, sejumlah ruas jalan rusak, dan bendungan irigasi jebol.
Bahkan, lima unit glamping dilaporkan hilang atau hanyut, enam wahana pemandian rusak berat, serta empat unit penampungan mata air dan jaringan air bersih mengalami kerusakan parah.
Tak berhenti di situ, tanah bergerak meneror Desa Dukuhbenda, Kecamatan Bumijawa. Sebanyak 41 rumah warga mengalami kerusakan dan memicu kekhawatiran akan potensi bencana susulan. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Sokasari dengan dua rumah rusak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: