Dari Teater Kampus ke Ruang Aman Ekspresi, Nila Dianti Buka Kelas Akting untuk Model hingga Difabel

Dari Teater Kampus ke Ruang Aman Ekspresi, Nila Dianti Buka Kelas Akting untuk Model hingga Difabel

Penggiat teater Kota Semarang, Nila Dianti melatih olah wajah saat dilakukan pelatihan teater.-Dok. Pribadi-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com – Berangkat dari dunia teater kampus, Nila Dianti tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pengajar akting dan ekspresi bagi beragam kalangan. Kini, perempuan asal Semarang itu aktif membimbing model, kreator konten, anak-anak usia taman kanak-kanak (TK), hingga penyandang disabilitas yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang seni peran.

Setelah lulus kuliah, Nila awalnya hanya meneruskan aktivitasnya di komunitas teater umum. Namun, kegelisahan mulai muncul ketika ia melihat teater kerap dianggap sebagai seni yang eksklusif, baik bagi pelaku maupun penikmatnya.

Pandangan tersebut mulai berubah saat Nila memperluas pergaulan ke dunia hiburan lain, seperti film dan modeling. Dari sana, ia menemukan bahwa kemampuan dasar akting yang berakar dari teater ternyata sangat dibutuhkan, khususnya dalam dunia modeling.

Kesadaran itu mendorongnya membuka kelas akting di bawah manajemen Yume Talent and Model Semarang. Menurut Nila, seorang model tidak cukup hanya piawai berpose, tetapi juga harus mampu mengolah ekspresi dan emosi di depan kamera maupun panggung.

“Sekarang aku mengisi kelas akting untuk model, konten kreator, anak-anak TK juga penyandang disabilitas,” ujarnya, Jumat, 23 Januari 2026.

Kelas akting tersebut dijalankan secara rutin, baik sebagai program mandiri maupun digabungkan dengan kelas modeling. Selama sekitar tujuh bulan terakhir, Nila terus mengembangkan kelas ini agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Fokus utama yang ia tanamkan adalah membangun kepercayaan diri. Menurutnya, rasa percaya diri merupakan modal penting, terutama bagi mereka yang aktif di media sosial sebagai kreator konten.

Dalam praktiknya, Nila menemukan banyak peserta yang terlihat percaya diri di depan kamera, tetapi justru merasa kaku dan canggung saat berinteraksi langsung dengan orang lain.

“Di kelas akting, mereka dituntut berani menatap mata lawan main. Itu membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi,” katanya.

Melalui latihan olah rasa dan regulasi emosi, peserta diajak mengenali serta mengelola perasaan mereka sendiri. Dari proses itu, Nila menyadari kelas yang ia rintis berkembang menjadi lebih dari sekadar pelatihan ekspresi visual, melainkan juga ruang aman untuk bersosialisasi dan menata emosi.

Konsep tersebut kemudian diperluas menjadi kelas ekspresi. Penamaan kelas disesuaikan dengan sasaran peserta. Untuk lembaga pendidikan atau industri film, kelas tetap disebut kelas akting. Sementara bagi masyarakat umum, termasuk kelas liburan dan kelas anak usia TK, ia menggunakan istilah kelas ekspresi.

“Anak-anak perlu membangun kepercayaan diri sejak kecil, berani bertanya, bercerita, dan menyampaikan perasaan,” ujarnya.

Ke depan, Nila juga berencana mengembangkan kelas ekspresi sebagai alternatif healing. Meski menggunakan pendekatan olah rasa, ia menegaskan tidak menempatkan dirinya sebagai terapis seni.

Ia hanya berperan sebagai fasilitator yang menyediakan ruang aman dan nyaman bagi peserta untuk mengekspresikan diri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: