Sadranan di Ngijo Semarang, Tradisi Bersih Hati yang Menyatukan Warga Lintas Iman Jelang Ramadan

Sadranan di Ngijo Semarang, Tradisi Bersih Hati yang Menyatukan Warga Lintas Iman Jelang Ramadan

Warga memasak daging kambing pada acara nyadran di makam Sentono, Kelurahan Ngijo, Kecamatan, Kota Semarang, Kamis 22 Januari 2026.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com — Kabut tipis dan suhu dingin masih menyelimuti kawasan Pemakaman Sentono, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Kamis, 22 Januari 2026 pagi. Di bawah rindangnya pohon beringin tua, suasana hening perlahan berubah menjadi denyut kehidupan.

Sejak pukul 06.00 WIB, puluhan pria mulai sibuk memotong dan mengolah 48 ekor kambing yang nantinya akan dimasak menjadi gulai. Mereka saling kerjasama dalam mengolah gulai kambing untuk dibagikan kepada warga.

Asap tipis dari tungku masak menyatu dengan udara pagi, mengiringi langkah ratusan warga yang berdatangan membawa satu berkat nasi lengkap dengan lauk dari rumah masing-masing.

Tradisi sadranan yang diselenggarakan setiap tahun jelang Ramadan ini menjadi penanda kuat ikatan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Ngijo menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Kegiatan ini dipusatkan di area Pemakaman Sentono. Di tangan warga, nasi berkat diserahkan kepada panitia untuk didoakan bersama dalam rangkaian tahlilan, selawatan, dan Maulid Hasanah. Usai doa, berkat itu dikembalikan kepada pemiliknya, kini telah berisi daging kambing hasil sedekah warga.

Di sekitar lokasi, sejumlah makam tampak bersih dan ditaburi bunga mawar merah dan putih. Beberapa warga terlihat khusyuk menundukkan kepala, memanjatkan doa bagi orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu berpulang.

Subandi, salah satu warga Ngijo, mengaku rutin mengikuti sadranan setiap tahun. Seperti biasa, ia datang bersama keluarga membawa nasi berkat dari rumah.

“Sudah menjadi kebiasaan. Nanti nasi berkat ditaruh ke panitia, dibawa dan didoakan bersama, habis itu diisi daging kambing lalu dibagikan lagi. Ada berkahnya juga untuk sedekah,” ujar Subandi kepada Diswayjateng.id.

Sebelum mengikuti rangkaian acara, Subandi menyempatkan diri melakukan tilik kubur, menabur bunga, dan mendoakan leluhur. Menurutnya, sadranan bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat tentang asal-usul dan nilai kekeluargaan.

“Saya ngajak anak dan istri. Jadi keluarga kami memang rutin mengikuti tradisi ini,” katanya.

Menariknya, sadranan makam Sentoso tidak hanya diikuti warga dewasa. Ratusan murid SD Negeri Ngijo 01 tampak berbaur dengan masyarakat. Sekitar 170 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 hadir bersama para guru, mengikuti prosesi dengan tertib.

Guru SD Ngijo 01, Khalida Suryaning Putri (47), warga asal Lasem yang kini menetap di Ngijo, menyebut keterlibatan siswa dalam sadranan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pelestarian budaya lokal.

“Ini dalam rangka kegiatan nyadran atau sadranan. Setiap tahun kami memang selalu ikut serta. Anak-anak harus tahu dan menjunjung nilai religius, sosial, dan budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sadranan juga menjadi sarana konkret untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini. Tidak semua siswa yang ikut beragama Islam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: