Ketua DPRD Demak: Khotmil Qur’an Berjamaah Perkuat Karakter Sosial dan Persatuan Umat

Ketua DPRD Demak: Khotmil Qur’an Berjamaah Perkuat Karakter Sosial dan Persatuan Umat

--

DEMAK, diswayjateng.com - Tradisi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an secara berjamaah dinilai memiliki peran penting tidak hanya dalam memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga membentuk karakter sosial yang harmonis di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Demak, Zayinul Fata, saat menghadiri pengajian selapanan dan khotmil Qur’an Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Bonang yang diikuti ribuan jamaah.

Zayinul Fata menegaskan, Al-Qur’an harus diposisikan sebagai pedoman hidup yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dihayati dan diamalkan secara bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari.

“Al-Qur’an adalah sumber ketenangan batin sekaligus pedoman sikap dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika dibaca secara berjamaah, di situlah nilai kesabaran, empati, dan kebersamaan dilatih dan dikuatkan,” ujarnya.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut, kebiasaan membaca Al-Qur’an secara kolektif mengajarkan umat untuk saling menghargai proses, menjaga kekompakan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

“Dalam berjamaah, kita belajar menunggu, menyesuaikan diri, dan saling menguatkan. Nilai-nilai inilah yang sangat penting untuk membangun keluarga yang rukun dan masyarakat yang harmonis,” tuturnya.

Zayinul Fata juga mengapresiasi peran strategis Muslimat NU yang selama ini konsisten menjaga tradisi keagamaan sekaligus menjadi penggerak keteduhan sosial di lingkungan sekitar.

“Muslimat NU bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pendidik karakter di tingkat keluarga. Dari ibu-ibu Muslimat inilah lahir generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki empati sosial,” tegasnya.

Ia menambahkan, kegiatan pengajian selapanan dan khotmil Qur’an memiliki nilai strategis dalam menjaga persatuan dan memperkuat solidaritas umat di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

“Ketika nilai-nilai Al-Qur’an hidup di tengah masyarakat, maka persatuan akan terjaga dan kehidupan sosial akan berjalan lebih sejuk,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Bonang, Marwiyah, menyampaikan bahwa kegiatan pengajian selapanan dan khotmil Qur’an merupakan agenda rutin yang bertujuan menjaga tradisi keagamaan sekaligus mempererat ukhuwah antaranggota Muslimat NU.

Diketahui, Kabupaten Demak dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah penghafal Al-Qur’an (hafidz dan hafidzah) terbanyak di Jawa Tengah. Bahkan, di sejumlah kesempatan, Demak disebut sebagai daerah dengan jumlah penghafal Al-Qur’an terbanyak di Indonesia, sehingga mendapat julukan sebagai “Kota Santri” dengan tradisi tahfidz yang kuat.

Data Jaringan Penghafal Al-Qur’an (JMQH) Kabupaten Demak mencatat sekitar 1.500 anggota aktif, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Bonang dan Wedung, yang menunjukkan kuatnya komunitas penghafal Al-Qur’an, khususnya dari kalangan perempuan.

Hal tersebut juga pernah disampaikan oleh KH Abdul Qoyyum Mansur dari Lasem, Rembang. Dalam acara Haflah Khotmil Qur’an di Pondok Pesantren Sullam, Desa Weding, Kecamatan Bonang, pada Juni 2024, ia menyebut bahwa penghafal Al-Qur’an terbanyak di dunia berasal dari Indonesia, dan jumlah penghafal terbanyak di Indonesia berasal dari Kabupaten Demak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: