Menari untuk Pulang ke Diri Sendiri: Kisah Alvia Nur Vida Menjaga Api Budaya dari Semarang
Bagi Alvia Nur Vida, menari bukan sekadar seni gerak, melainkan cara menata emosi dan menjaga budaya.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.com – Bagi sebagian orang, menari mungkin hanya soal menghafal gerak dan mengikuti irama. Namun bagi Alvia Nur Vida, setiap hentakan kaki dan ayunan tangan adalah bahasa hati. Melalui tari, perempuan berusia 31 tahun ini belajar menata emosi, melepas rasa, dan menemukan dirinya sendiri.
Kini, Vida sapaan akrabnya menjadi salah satu pelatih di Sanggar Tari Tresna Budaya, Semarang. Perjalanan panjangnya di dunia seni tari dimulai sejak usia yang sangat belia, bahkan sebelum ia memahami makna panggung dan sorotan lampu.
Vida pertama kali mengenal tari saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, sekitar usia lima tahun. Perkenalan itu datang dari orang tuanya yang melihat ketertarikan sang anak pada seni gerak.
Sejak saat itu, tari menjadi bagian dari kesehariannya. Ia terus menari hingga menginjak sekolah dasar dan berlanjut sampai SMA. Namun, perjalanan tersebut tak selalu berjalan mulus.
“Ada masa pernah vakum nari. Terus rasanya kayak ada yang hilang,” tutur Vida mengenang, Selasa, 20 Januari 2026.
Masa jeda itu terjadi cukup lama, terutama saat ia duduk di bangku SMP hingga SMA. Bukan karena kehilangan minat, melainkan karena minimnya ruang untuk menari di lingkungan sekolah. Tidak adanya kegiatan ekstrakurikuler tari membuatnya terpaksa menjauh sementara dari dunia yang ia cintai.
Justru dari situ, Vida menyadari satu hal penting: menari bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan batin.
“Akhirnya mulai nari lagi, karena lewat gerakan tari itu saya bisa menyalurkan perasaan,” katanya.
Dalam perjalanan seninya, Vida tidak tumbuh sebagai penari dengan deretan piala lomba. Namun, pengalamannya berbicara banyak. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika ia dipercaya mewakili Jawa Tengah dalam kegiatan kebudayaan ke Kalimantan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Kesempatan itu menjadi titik penting dalam hidupnya. Bukan hanya soal tampil di luar daerah, tetapi tentang membawa identitas budaya dan merasakan langsung bagaimana seni menjadi alat pemersatu.
Pengalaman tampil dan melatih pun datang silih berganti. Hingga akhirnya, Vida lebih banyak mengabdikan diri sebagai pelatih tari, terutama untuk siswa-siswi sekolah.
Saat ini, Vida kerap terlibat sebagai pelatih tari berbasis acara atau kegiatan tertentu. Ia mendampingi siswa-siswi dalam berbagai agenda seperti gelar karya, tugas akhir, hingga pertunjukan sekolah.
Sejumlah sekolah di Semarang pernah ia dampingi, di antaranya SMA Loyola Semarang, SMA Nasima, dan SMA Negeri 3 Semarang.
“Kalau ngelatih biasanya by event. Jadi setelah event selesai, ya selesai,” ujarnya sederhana.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: