Tekan Banjir Demak, BNPB Ajukan Perbaikan Sipon Rp110 Miliar

Tekan Banjir Demak, BNPB Ajukan Perbaikan Sipon Rp110 Miliar

Kepala BNPB Suharyanto saat meninjau banjir di Karanganyar Demak-nungki diswayjateng-

DEMAK, diswayjateng.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajukan perbaikan sipon kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk tekan banjir di Kabupaten Demak. Pasalnya, data penanganan banjir di Kabupaten Demak menunjukkan bahwa keterbatasan kapasitas saluran air atau sipon di Kecamatan Gajah menjadi salah satu faktor utama terjadinya genangan di Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sipon yang ada saat ini tidak lagi mampu menampung debit air ketika curah hujan meningkat.

“Saluran ini kapasitasnya sudah tidak mencukupi. Saat hujan deras, air tidak tertampung dan akhirnya meluap ke permukiman warga,” ujar Suharyanto saat meninjau lokasi banjir di Demak.

BNPB mencatat, genangan di wilayah Karanganyar terjadi akibat kombinasi tingginya curah hujan, kapasitas sipon yang terbatas, serta tersumbatnya aliran air oleh sampah dan sedimen. Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga merendam akses jalan dan lahan pertanian.

Untuk penanganan jangka pendek, BNPB mengoperasikan pompa air dan mengerahkan alat berat guna membersihkan saluran air. “Jangka pendeknya kita pompa dan kita kerahkan alat berat untuk mengeruk sampah supaya aliran air bisa lancar kembali,” jelas Suharyanto.

Sementara itu, solusi jangka panjang difokuskan pada perbaikan infrastruktur. BNPB akan melaporkan kondisi sipon tersebut kepada Kementerian PU dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp110 miliar.

“Segera akan kita laporkan ke Kementerian PU agar sipon ini dibuat lebih besar lagi. Ini penting supaya kejadian banjir tidak terulang,” tegasnya.

Data BNPB juga menunjukkan bahwa banjir Demak pada 2026 tidak separah kejadian 2024 lalu yang dipicu jebolnya tanggul Sungai Wulan di wilayah Norowito. Setelah dilakukan normalisasi oleh Kementerian PU, Sungai Wulan tidak lagi menimbulkan banjir besar pada 2025 hingga 2026.

Namun demikian, genangan masih terjadi di wilayah cekungan akibat jalur air yang tersumbat dan kapasitas drainase yang terbatas. Kondisi ini menyebabkan lahan persawahan terendam dan berpotensi menimbulkan gagal panen.

Selain perbaikan infrastruktur, BNPB juga mengambil langkah pengendalian cuaca. Dalam dua pekan terakhir Januari 2026, curah hujan di Jawa Tengah tercatat tinggi dan memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah dan mengerahkan tiga armada pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca. Dua pesawat dari BNPB dan satu dari provinsi,” kata Suharyanto.

Ia menegaskan, Operasi Modifikasi Cuaca tidak bertujuan menghentikan hujan sepenuhnya. “OMC ini bukan untuk menghentikan hujan, tetapi mengurangi intensitasnya supaya tidak lebat sampai ekstrem,” ujarnya.

BNPB berharap, dengan dukungan data lapangan, pengendalian cuaca, serta perbaikan infrastruktur secara terpadu, risiko banjir di Demak dapat ditekan dan dampaknya terhadap masyarakat serta sektor pertanian dapat diminimalkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: