Jembatan Swadaya Sungai Beringin Putus, Ratusan Warga Mangkang Wetan Semarang Terisolasi

Jembatan Swadaya Sungai Beringin Putus, Ratusan Warga Mangkang Wetan Semarang Terisolasi

Warga terpaksa menggunakan perahu untuk menyebrangi sungai Beringin karena putusnya jembatan di Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Semarang.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com – Putusnya jembatan swadaya di atas Sungai Beringin, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, membuat ratusan warga RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan terisolasi. 

Jembatan swadaya yang menjadi akses utama penghubung Mangkang Wetan dan Mangunharjo itu ambrol akibat luapan sungai Beringin setelah hujan deras yang mengguyur Kota Semarang pada Kamis, 15 Januari 2026 malam. 

Jembatan selebar kurang lebih tiga meter tersebut hanyut terbawa arus deras sekitar pukul 21.00 WIB. Akibatnya, aktivitas warga lumpuh karena akses satu-satunya yang biasa dilalui sepeda motor tidak bisa digunakan. 

Dari pantauan Diswayjateng.id dilapangan, warga terpaksa menyeberangi Sungai Beringin menggunakan perahu milik warga. 

BACA JUGA:Banjir Rendam Jalan Pantura Semarang, Akses Kendaraan Sempat Lumpuh hingga Tengah Malam

Layanan perahu tersebut bersifat sukarela dan menjadi tumpuan utama masyarakat untuk beraktivitas, termasuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Salah satu warga Mangkang Wetan, Mukarromah, terlihat menyeberangi sungai dengan membawa beberapa tabung gas elpiji kosong. Ia mengaku harus ke wilayah Mangunharjo untuk membeli gas, sekaligus membantu tetangga yang menitipkan kebutuhan serupa. 

“Biasanya lewat jembatan naik motor. Sekarang jembatannya putus, jadi harus naik perahu. Bayarnya seikhlasnya,” ujar Mukarromah, Jumat, 16 Januari 2026. 

Ia menjelaskan, jembatan yang roboh tersebut merupakan jembatan sementara yang dibangun secara swadaya oleh warga. 

Sementara jembatan permanen yang direncanakan di lokasi tengah sungai hingga kini belum juga rampung, meski telah direncanakan sejak lebih dari tiga tahun lalu. 

“Harapannya jembatan permanen segera dibangun. Kalau terus pakai perahu sangat menyulitkan warga, apalagi yang bawa barang atau anak-anak,” katanya. 

Putusnya jembatan itu berdampak pada beberapa RT dalam satu RW, bahkan akses antarwilayah yang mencakup beberapa RW di sekitarnya ikut terganggu. 

Selain menggunakam perahu warga, akses lain  harus memutar dengan waktu tempuh sekitar 10 menit jika menggunakan kendaraan darat. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait