Membangun Citra Diri di Dunia: Praktik Personal Branding Mahasiswa Melalui Instagram dan Linkedin
Aurelia Maritza Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.--
Oleh: Aurelia Maritza
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang
Media sosial telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa saat ini. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, layar ponsel seolah selalu hadir menemani. Instagram, LinkedIn, dan berbagai platform lainnya bukan lagi sekadar tempat berbagi foto atau cerita keseharian, tetapi juga ruang di mana citra diri perlahan dibentuk dan dinilai oleh banyak orang.
Bagi mahasiswa, kondisi ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Masa kuliah bukan hanya tentang hadir di kelas, mengerjakan tugas, dan mengejar nilai akademik. Di balik itu semua, mahasiswa juga sedang berada pada fase penting dalam membangun identitas diri dan menyiapkan masa depan.
Apa yang ditampilkan di media sosial, disadari atau tidak, ikut membentuk kesan tentang siapa diri mereka dan ke mana arah hidup yang ingin dituju.
Personal branding kemudian menjadi istilah yang semakin sering terdengar. Meski terdengar formal, pada dasarnya personal branding adalah cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada orang lain.
Dalam konteks mahasiswa, personal branding tidak harus selalu dikaitkan dengan ambisi karier besar atau pencitraan berlebihan. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana: bagaimana cara berbicara di ruang digital, konten apa yang dibagikan, serta nilai apa yang ingin ditunjukkan kepada publik.
Instagram menjadi salah satu platform yang paling sering digunakan mahasiswa untuk mengekspresikan diri. Melalui unggahan foto, video singkat, dan cerita harian, mahasiswa menampilkan potongan-potongan kehidupan mereka—mulai dari aktivitas kampus, organisasi, lomba, hingga minat personal.
Feed Instagram perlahan berubah menjadi etalase diri, tempat citra dibangun melalui visual yang menarik dan narasi yang menyertainya.
Namun, di sinilah tantangan mulai muncul. Keinginan untuk terlihat menarik dan diakui sering kali mendorong mahasiswa membangun citra yang terlalu sempurna. Unggahan dipilih dengan sangat selektif, diedit sedemikian rupa, bahkan terkadang tidak lagi merepresentasikan kondisi diri yang sebenarnya.
Jika tidak disadari, personal branding yang semula bertujuan positif justru bisa berubah menjadi tekanan untuk selalu tampil ideal di mata orang lain.
Berbeda dengan Instagram, LinkedIn hadir dengan nuansa yang lebih serius dan profesional. Platform ini mulai dilirik mahasiswa, terutama mereka yang sedang mendekati masa kelulusan.
Di LinkedIn, mahasiswa belajar menuliskan pengalaman organisasi, magang, proyek akademik, serta minat karier secara lebih terstruktur. Kehadiran di LinkedIn menuntut mahasiswa untuk mulai memikirkan arah masa depan dan bagaimana mereka ingin dikenal secara profesional.
Meski memiliki karakter yang berbeda, Instagram dan LinkedIn sejatinya saling melengkapi. Instagram menampilkan sisi personal, kreativitas, dan keseharian, sementara LinkedIn memperkuat citra profesional dan kesiapan karier.
Tantangannya adalah menjaga agar keduanya tetap berada dalam satu garis identitas yang sama. Ketika apa yang ditampilkan di Instagram bertolak belakang dengan citra profesional di LinkedIn, hal tersebut dapat menimbulkan kebingungan persepsi bagi orang lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

