Wilayah Kudus Dikepung Banjir dan Longsor, 14 Ribu Warga Terdampak Bencana

Wilayah Kudus Dikepung Banjir dan Longsor, 14 Ribu Warga Terdampak Bencana

Banjir yang melanda di Kudus merendam pemukiman warga. --

KUDUS, diswayjateng.com - Wilayah Kudus dilanda hujan deras berintensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) hingga Senin (12/1/2026). Total 4.668 kepala keluarga atau 14.143 warga Kabupaten Kudus terdampak bencana ini.

Kondisi itu akibat bencana hidrometeorologi basah berupa banjir, limpasan sungai, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

Jumlah warga terdampak bencana alam ini berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus.

Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji mengatakan, hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Pegunungan Muria menyebabkan debit Sungai Gelis, Sungai Piji dan Sungai Dawe meningkat tajam hingga meluap ke permukiman warga.

"Kondisi tersebut diperparah dengan tanah yang menjadi labil akibat tingginya curah hujan, sehingga memicu banjir, genangan, dan longsor di berbagai wilayah, " ujar Munaji pada Senin (12/1/2026).

BACA JUGA:Banjir di Kudus Meminta 'Tumbal' Nyawa, Dua Warga Tewas Tenggelam dalam Sehari

BACA JUGA:Dataran Tinggi Rahtawu Dikepung 47 Titik Longsor, Bupati Kudus Fokus Keselamatan Warga

Munaji menjelaskan, banjir dan limpasan sungai tercatat terjadi di empat kecamatan, yakni Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae. Ketinggian air bervariasi antara 5 hingga 60 sentimeter.

Menurut Munaji, banjir di Kecamatan Mejobo melanda tujuh desa. Meliputi Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Desa Hadiwarno.

"Desa Mejobo menjadi wilayah terdampak paling besar dengan 600 KK atau 1.741 jiwa dan sekitar 425 rumah terdampak," ujar Munaji.

Luapan air masuk ke rumah warga sebanyak 30 kepala keluarga di Desa Mejobo, dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter. Selain itu, banjir juga merendam persawahan dengan luas mencapai 25 hektare.

Untuk kondisi di Desa Jojo, banjir berdampak pada 325 KK atau 1.040 jiwa dengan sekitar 200 rumah terdampak dan ketinggian air hingga 30 sentimeter.

Sementara di Desa Golantepus, kata, Munaji, sebanyak 225 KK atau 701 jiwa terdampak, air masuk ke rumah 20 KK, dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter.

BACA JUGA:Rumah Warga Purwosari Tergerus Banjir di Bantaran Sungai, Pemkab Kudus Sigap Tangani Bencana

BACA JUGA:Hujan Deras Guyur Kudus, Sungai Gelis Meluap Rendam Pemukiman Warga

Desa Kesambi terdampak banjir dengan 40 KK atau 120 jiwa, dengan ketinggian air 20 hingga 30 sentimeter. Dan persawahan terdampak seluas 20,8 hektare.

Genangan juga terjadi di Desa Temulus dengan 175 KK atau 520 jiwa terdampak. Desa Tenggeles dengan 70 KK atau 240 jiwa, serta Desa Hadiwarno yang merendam persawahan seluas 20 hektare. 
Pemukiman warga di Pegunungan Muria rawan longsor dan mengancam keselamatan warga. --

Di Kecamatan Kota, limpasan Sungai Gelis menggenangi Desa Singocandi dengan 70 KK atau 261 jiwa terdampak. Air setinggi hingga 40 sentimeter sempat masuk ke sekitar 70 rumah warga.

"Bahkan sebagian warga mengungsi sementara sebelum kondisi berangsur surut dan warga kembali ke rumah masing-masing, " terang Munaji.

Sementara itu di Kecamatan Jekulo, banjir melanda Desa Hadipolo dengan dampak cukup besar terhadap 600 KK atau 1.870 jiwa. Sebanyak 200 rumah terdampak dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 60 sentimeter.

BACA JUGA:Kawasan Wisata Religi Sunan Muria Kudus Dihantam Longsor, Dua Mobil Hanyut ke Jurang

BACA JUGA:Hujan Deras Guyur Kudus, Sungai Gelis Meluap Rendam Pemukiman Warga

Di Kecamatan Bae, banjir menggenangi Desa Ngembalrejo dengan 650 KK atau 1.961 jiwa terdampak. Sekitar 500 rumah terdampak dan air masuk ke rumah warga sebanyak 40 kepala keluarga dengan hingga 50 sentimeter.

Selain banjir, BPBD Kudus juga mencatat puluhan titik tanah longsor tersebar di Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae. Kecamatan Dawe menjadi wilayah dengan jumlah longsor terbanyak. Meliputi Desa Japan dengan 24 titik longsor, Desa Kuwukan  20 titik longsor yang berdampak pada enam rumah warga.

Kemudian di Desa Ternadi dengan empat titik longsor yang mengenai dua rumah. Ditambah di Desa Kajar dengan enam titik longsor, serta Desa Colo dengan sembilan titik longsor.

Salah satu kejadian paling menonjol terjadi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, tepatnya di jalur menuju objek wisata religi Makam Sunan Muria.

Longsor di Desa Colo menyebabkan jembatan portal dan badan jalan ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter. Kejadian ini menyeret dua mobil ke sungai.

Dalam kejadian tersebut, tiga orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, dan proses evakuasi kendaraan telah selesai dilakukan.

Di sisi lain, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, Pemkab Kudus bergerak cepat dengan mengerahkan seluruh perangkat daerah dan berkoordinasi lintas instansi dalam penanganan bencana.

Ia menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama, serta meminta seluruh organisasi perangkat daerah untuk siaga dan responsif.

“Kami tidak ingin penanganan lambat. Semua OPD saya minta turun ke lapangan, berkoordinasi, dan memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi,” ujar Sam’ani Intakoris.

Samani juga mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah lereng Pegunungan Muria, agar meningkatkan kewaspadaan.

Menurut Samani, potensi bencana susulan bisa terjadi, mengingat status siaga darurat bencana masih berlaku hingga 31 Mei 2026,

“Kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan warga terdampak bisa segera terpenuhi. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar Sam’ani Intakoris.

Ia menegaskan seluruh organisasi perangkat daerah diminta siaga dan responsif, khususnya dalam penanganan banjir dan tanah longsor yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

“Saya sudah instruksikan BPBD, Dinas PUPR, Dinsos, camat, dan kepala desa untuk terus berkoordinasi. Jangan menunggu laporan, tapi jemput bola ke lokasi terdampak,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait