Warga Desa Tempur Jepara Terisolir Akibat Longsor, Akses Jalan dan Listrik Terputus Total

Warga Desa Tempur Jepara Terisolir Akibat Longsor, Akses Jalan dan Listrik Terputus  Total

Jalan utama menuju Desa Tempur Kecamatan Keling terputus total akibat badan jalan puluhan meter amblas tergerus air sungai. --

JEPARA, diswayjateng.com- Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Jepara selama beberapa hari, memicu bencana tanah longsor dan erosi yang parah. 

Pada Sabtu, (10/1/ 2026), akses jalan utama dari Desa Damarwulan menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling terputus total. Kondisi ini akibat badan jalan sepanjang kurang lebih 60 meter amblas tergerus air sungai. 

Peristiwa ini mengakibatkan seluruh penduduk Desa Tempur yang berada di lereng Pegunungan Muria terisolir. Bahkan ada tiga rumah tertimpa langsung material longsor.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar yang langsung meninjau lokasi menyebutkan bahwa ada 18 titik longsor. 

"Saat ini Desa Tempur terisolir. Prioritas utama kami adalah membuka akses agar bantuan dan evakuasi bisa dilakukan," tegas Ary Bachtiar di lokasi bencana. 
Sekda Ari Bahtiar mengerahkan Tim Tagana Dinas Sosial dan mendirikan dapur umum dari BPBD Jepara. --

Merespon kondisi darurat, Pemkab Jepara segera mengerahkan bantuan dari Tim Tagana Dinas Sosial. Selain itu, mendirikan dapur umum dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara. 

Petugas disiagakan untuk memastikan kebutuhan pokok warga. Genset juga sedang diupayakan untuk dikirim, guna mengatasi pemadaman listrik total dari PLN yang memperparah kondisi dan memutus komunikasi.

Bantuan kemanusiaan juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jepara. Lembaga ini memberikan bantuan langsung berupa gas 12 kg, mie instan, telur dan BBM untuk operasional genset dan air mineral. 

Bantuan logistik ditujukan untuk memenuhi kebutuhan darurat warga Desa Tempur sambil menunggu akses jalan pulih.

Pemkab Jepara melakukan dua strategi paralel untuk segera mengatasi isolasi Desa Tempur. Pertama, melakukan perbaikan permanen pada jalan yang putus. Kedua, dan yang sedang diupayakan segera, adalah membuka jalur alternatif darurat.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Perhutani untuk meminjam tanah guna membuka jalur alternatif sementara. Harapannya, dalam waktu dekat sudah ada akses darurat yang bisa digunakan warga," jelas Sekda Ary Bachtiar. 

Langkah ini diambil karena perbaikan jalan yang putus diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama akibat kerusakan yang masif.

Sekda Arie mengimbau seluruh camat dan kepala desa di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan. 

Bencana serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa titik lain di Jepara, seperti banjir di Sumberjo dan longsor di Bungu. Kondisi ini menunjukkan tingginya potensi bencana di wilayah Jepara saat ini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait