Banjir Hantam Dua Kelurahan di Kota Tegal, Ratusan Warga Mengungsi
PENGUNGSIAN – Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah berbincang dengan warga Kelurahan Krandon yang terdampak banjir di tenda pengungsian, Kamis, 1 Januari 2026.--
TEGAL, diswayjateng.com - Tak ada pesta kembang api atau riuh tiupan terompet saat malam pergantian tahun di Kelurahan Krandon dan Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Banjir hantam dua Kelurahan di Kota Tegal pada pergantian tahun baru kemarin.
Banjir yang menghantam permukiman akibat curah hujan tinggi yang terus mengguyur dalam beberapa hari terakhir. Alih-alih menyambut tahun baru dengan harapan baru, warga dua kelurahan itu disibukkan dengan persoalan lama yang kembali terulang.
Hujan deras di penghujung Desember mengakibatkan air tidak hanya hanya menggenangi halaman, namun juga merangsek ke dalam rumah, bahkan hingga dapur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tegal mencatat, di Kelurahan Krandon, sebanyak 205 rumah yang ditinggali 748 orang terdampak. Sedangkan di Kelurahan Kaligangsa, 181 rumah dan 580 orang yang terkena dampak banjir.
BACA JUGA:Banjir di Sidakaton, PMI Tegal Dirikan Dapur Umum dan Salurkan Ribuan Nasi Bungkus
Di Kelurahan Krandon, bahkan 144 orang di antaranya harus mengungsi, karena rumahnya sudah tidak dapat ditinggali. Terdiri dari 62 laki-laki dan 82 perempuan, di antaranya 22 lansia, 14 remaja, 25 anak-anak, dan 11 balita. Sementara, di Kelurahan Kaligangsa, 19 warga mengungsi, terdiri dari 9 laki-laki dan 10 perempuan, di antaranya 5 lansia, 7 dewasa, 5 anak, dan 2 balita.
Salah satu warga yang mengungsi di tenda pengungsian adalah Tarwi. Lansia berusia 62 tahun itu mengungsi sejak Selasa malam, 30 Desember 2025, ketika air terus meninggi. Ini merupakan kali kedua pada tahun ini Tarwi bersama warga lainnya harus tidur di luar rumah akibat banjir. “Setahun ini sudah dua kali, awal dan akhir tahun,” tutur warga Kelurahan Krandon itu, Kamis, 1 Januari 2026.
Tarwi mengenang, banjir yang terjadi sekarang terasa jauh lebih menyeramkan dibandingkan dulu. Bukan hanya soal air yang semakin tinggi dan meluas, namun juga ancaman lain yang mengintai.
Yaitu, keberadaan hewan-hewan berbisa seperti ular dan biawak yang ikut terbawa arus dan masuk ke pemukiman. Bahkan, baru-baru ini, seorang warga dikabarkan sempat terpatok ular dan harus dirawat.
BACA JUGA:SIT Usamah Serahkan Donasi Bencana Rp31,6 Juta untuk Korban Banjir Bandang Sumatra dan Aceh
BACA JUGA:Desa Rembul Tegal Dilanda Bencana Banjir, Angin Kencang hingga Longsor
Meski sulit tidur di tenda pengungsian, Tarwi tetap bersyukur memiliki tempat berlindung sementara. Rumahnya tak lagi layak huni, dapurnya terendam dan tak bisa digunakan untuk memasak. Di pengungsian, setidaknya dia masih bisa menyantap makanan hangat dari dapur umum yang disediakan. Setelah banjir surut, berharap ada bantuan yang datang, khususnya peralatan kebersihan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
