Dusun Thekelan, Bukti Nyata Toleransi di Negeri Atas Awan Saat Perayaan Natal

Dusun Thekelan, Bukti Nyata Toleransi di Negeri Atas Awan Saat Perayaan Natal

BERBARIS : Umat Kristen saat mendapatkan ucapan selamat Natal dari warga Dusun Thekelan berbeda keyakinan sambil berbaris, Kamis 25 Desember 2025. Foto : Erna Yunus Basri--

SEMARANG, diswayjateng.com - Sebagai tradisi turun-temurun yang menginspirasi banyak daerah di Indonesia untuk belajar tentang keharmonisan, Dusun Thekelan bukti nyata Toleransi di negeri atas awan. 

Cerminan 'Keindahan' alam dibalut Kebhinekaan, terpampang nyata saat puncak perayaan Natal 25 Desember 2025. 

Momentum warga Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang saling berucap 'selamat' meski berbeda keyakinan, adalah pemandangan yang menyejukkan hati. 

perayaan Natal di Dusun Thekelan
tidak hanya dirayakan Umat Kristen, tapi seluruh umat yang ada di puncak kaki Gunung Merbabu turut merasakan damainya hari nan suci tersebut. 



Usai menjalankan ibadah di Gereja GPdi Jemaat El' Shaddai Thekelan, puluhan umat Kristen telah dinanti ratusan warga yang berdiri rapi di jalan dusun yang beraspal. 

Tembok tinggi bangunan rumah tak menggalangi warga berbagai pemeluk agama dan keyakinan untuk saling mengucapkan 'Selamat' di Hari Natal kepada umat Kristen. 

Pendeta Viktor Immanuel H.A mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat Natal datang dari warga Dusun Thekelan. 

"Awalnya, adanya PKUB, tahun 2016, intinya umat beragama selalu menjaga kerunan. Dan di Dusun Thekelan sudah berpuluh tahun menjaga kerukunan, sekaligus bukti nyata Toleransi," ucap Pendeta Viktor Immanuel H.A. 

Sementara, Kepala Dusun Thekelan, Supriyo, mengajak warganya untuk selalu menjaga solidaritas demi keamanan dan kenyamanan di Dusun Thekelan. 



Meskipun mayoritas penduduk di Dusun Thekelan merupakan umat Buddha, namun setiap ada kegiatan kemasyarakatan maupun kegiatan keagamaan, warga selalu kompak hadir dan berpartisipasi.

Ia juga mengajak untuk tetap menjaga kekompakan dan kerukunan. Serta,  menyaring pengaruh dari luar ketika hendak masuk ke lingkungan Dusun Thekelan. Ia yakin, setiap agama diyakini mengajarkan kebaikan. 

"Momen ini bukti toleransi yang tinggi  sehingga menciptakan kondisi lingkungan yang adem, ayem, dan tenteram," ujar Supriyo. 

Salah satu warga Mbah Sarmi (88) mengaku tidak pernah keluar dusun sejak lahir. Dan tradisi saling mengucapkan selamat serta maaf memaafkan saat salah satu agama merayakan, sudah berlangsung cukup lama. 



"Tradisi mengucapkan selamat dan maaf memaafkan ini sudah lama. Sebagai warga asli Dusun Thekelan, lahir hingga tua seperti sekarang ini, bersyukur kerukunan tetap terjaga," tutur Mbah Sarmi. 

Sebagai informasi, di Dusun Thekelan, lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah terdapat warga dengan penganut agama Buddha, Islam, dan Kristen.

Seluruh pemeluk agama berbaur, saling mengucapkan selamat, bersalaman, dan bermaaf-maafan saat perayaan keagamaan. 


Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: