Pelepah Pisang Menjadi Jembatan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus SLB C-D YPAC

Pelepah Pisang Menjadi Jembatan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus SLB C-D YPAC

Sejumlah anak berkebutuhan khusus menunjukan hasil karya dari pelepah pisang.-wayu sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, diswayjateng.com - Keramaian tampak terlihat di halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) C-D Yayasan Pembinaan Anak Cacad (YPAC) Semarang. Riuh tawa terdengar keras dari anak-anak yanh memainkan permainan tradisional dari pelepah pisang, ads juga yang nampak serius mewarnai gerabah. Ratusan siswa berkebutuhan khusus berkumpul bersama orang tua dan guru mereka. 

Beberapa anak tampak memahat pelepah pisang dengan penuh semangat; yang lain serius mewarnai gerabah, sementara sekelompok siswa memamerkan pedang, truk-trukan, hingga perahu-perahuan sederhana yang baru saja mereka rakit. 

Bagi orang yang melihat sekilas, aktivitas itu mungkin terlihat seperti anak-anak yang tengah bermain. Namun di balik keriuhan tersebut, tersimpan sebuah proses pembelajaran mendalam yakni perpaduan budaya, kreativitas, dan pendidikan inklusif yang dikemas dalam Puncak Kokurikuler, program berbasis kearifan lokal yang rutin digelar setiap semester. 

Tahun ini, SLB YPAC Semarang mengangkat tema “Dolanan Tradisional”, sebuah ajakan untuk mengenalkan kembali permainan masa kecil generasi terdahulu kepada siswa berkebutuhan khusus. 

“Sebanyak 178 siswa, dari jenjang SD, SMP, hingga SMA ikut serta. Karena jumlahnya cukup banyak, pelaksanaannya kami bagi menjadi dua hari,” jelas Ninik Suparti, Wakil Kepala Kurikulum SLB C-D YPAC Semarang, Rabu 26 November 2025. 

Di sepanjang area kegiatan, tersaji beragam mainan khas tempo dulu. Ada pedang dari pelepah pisang, perahu kecil, mobil-mobilan, hingga pistol-pistolan. 

Semuanya dibuat dari bahan sederhana yang biasa ditemukan di sekitar rumah.

Sekolah sebenarnya bisa menggunakan material tradisional lain seperti batok kelapa, janur, atau bambu. Namun, pelepah pisang dipilih karena lebih murah, mudah dibentuk, aman, dan sangat disukai siswa SD yang jumlahnya mencapai lebih dari 70 anak. 

Meski sederhana, merangkai permainan dari pelepah pisang bukan hal yang mudah bagi sebagian siswa, terutama kelompok daksa. Di sinilah kehadiran guru dan orang tua berperan besar. 

“Pendampingan itu kunci. Orang tua banyak terlibat, dan dari situ muncul momen kebersamaan yang hangat,” ujar Ninik. 

Di salah satu sudut halaman, seorang ibu tampak tekun membantu putrinya mewarnai sebuah kendi kecil. Dialah Siti, warga Tegalsari, yang hari itu mendampingi putrinya, Fariza Qonita Abdullah, siswa kelas 1D YPAC. 

Kegiatan seperti ini, menurut Siti, memberikan manfaat nyata bagi perkembangan anaknya.

“Tidak hanya melatih motorik, tapi juga membuat anak berani mencoba hal baru. Mereka jadi lebih percaya diri,” katanya. 

Bagi SLB C-D YPAC Semarang, dolanan tradisional bukan hanya nostalgia budaya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: